Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
Tampilkan postingan dengan label Sudut Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sudut Kota. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2010

Tamasya ke Stasiun Lempuyangan



Lempuyangan selama ini dikenal sebagai stasiun yang hanya melayani angkutan Kereta Api Ekonomi ini, ternyata memiliki sejarah dan peranan yang amat penting bagi perkembangan perkeretaapian di kota.

Lempuyangan diresmikan pada pada 2 Maret 1972, oleh Gubermen pemerintah Hindia Belanda. Saat itu pula menjadi titik awal hadirnya kereta api di wilayah nusantara, khususnya di Yogyakarta. Ketika itu stasiun lempuyangan hanya melayani rute Yogyakarta-Semarang. 15 tahun kemudian barulah muncul stasiun Tugu dengan rute yang lebih banyak lagi.

Sebelum pemerintah Hindia Belanda meresmikan dan menyetujui Undang-Undang pembangunan jalan KA di pulau Jawa, sebuah perusahaan KA swasta asal Belanda bernama 'NV Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij' atau NISM telah membangun rel sepanjang 26 kilometer dengan rute Kemijen, Semarang-Tanggung, dan Grobogan. Setelah bisnisnya merugi NISM kemudian meminta pemerintah Hindia Belanda melanjutkan pembangunan rel sepanjang 166 km menuju Yogyakarta. Sehingga pada masa itu, Stasiun Lempuyangan tercatat sebagai salah satu stasiun yang menjadi bagian dari sejarah terbentuknya jaringan rel kereta api di Pulau Jawa. 

Saat ini stasiun Lempuyangan dikelola olah PT Kereta Api Daerah Operasi (DAOP) VI Yogyakarta. Selain melayani datang dan perginya kereta ekonomi, seperi Progo dari Jakarta-Jogya dan sebaliknya ataupun sejumlah kereta ekonomi dari Bandung dan Surabaya, Stasiun Lempuyangan juga melayani kereta Prambanan Ekspres (Prameks) yang rutin melayani rute Jogja-Solo.

Stasiun Lempuyangan saat ini juga seringkali digunakan oleh warga sekitar untuk refreshing bersama keluarga saat sore. Banyak pedagang mainan dan makanan berjualan di tempat yang aman, namun bisa melihat lalu lintas kereta. Di tempat itu para warga bersama keluarga menikmati eksotiknya kereta api yang lalu lalang di stasiun.

Sangatlah tepat jika Stasiun Lempuyangan dikatakan sebagai salah satu warisan sejarah kota Jogja yang harus dilestarikan. Karena tanpanya, mungkin saja, perkembangan perkeretaapian di Pulau Jawa tidak akan sepesat seperti saat ini. 

Rabu, 17 November 2010

Mengenang Jenderal Sudirman di Museum Sasmita Loka

Museum Sasmita Loka merupakan tempat untuk memugar kenangan tentang sosok pejuang kemerdakaan, sekigus sosok pahlawan nasional yaitu Jenderal Sudirman. Namun, perlahan keberadaan museum ini mulai di tinggalkan. Sedikit sekali pengunjung yang datang untuk belajar dan mengenang pemimpin perang gerilya ini. Museum in terletak di jalan Bintaran Yogyakarta dan merupakan bekas rumah kediaman Panglima Besar Jendral Sudirman, jendral pertama dalam angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Dalam museum ini, para pengunjung dapat menyaksikan berbagai senjata api (diantaranya merupakan senjata api buatan sendiri) dan berbagai peralatan perang lain yang dipergunakan dalam revolusi phisik menghadapi musuh-musuh Negara. Sejak tanggal 30 Agustus 1982, kediaman resmi Jendral Soedirman ini diabadikan sebagai sebuah museum  yang dinamakan Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman di bawah pengelolaan TNI Angkatan Darat.
Seperti kembali ke masa lalu, mungkin inilah kesan pertama yang bisa kita rasakan. Satu set meja dan kursi kuno tertata di ruang tamu yang masih berlantaikan keramik tempo dulu. Seperti rumah pada umumnya, bangunan ini dilengkapi dengan sejumlah kamar. Jika kita melihat dengan teliti, di atas setiap pintu kamar terpasang tulisan nomer dan nama ruangan yang sudah diurutkan. Hal ini memudahkan kita untuk menjelajahi kediaman Jenderal Soedirman.
Dari ruang tamu, kita diajak untuk memasuki ruang santai. Di dalamnya terdapat meja kursi kuno dan juga berbagai piagam penghargaan Panglima Besar Soedirman. Koleksi rampasan pistol Mitraliur Sten buatan Inggris 1845, senapan Lee Enfield buatan Inggris, pedang Samurai akan menyita perhatian begitu kita memasuki ruang kerja yang juga memajang telpon kuno semasa Sang Jenderal menjabat sebagai Panglima Besar TKR. Di ruang tidur sengaja ditempatkan patung lilin Sang Jenderal, bersebelahan dengan tempat tidur berkelambu putih yang biasa digunakan beliau. Di ruangan ini pula masih tersimpan koleksi mesin jahit yang dipergunakan sehari-hari oleh Ibu Soedirman untuk menjahit atau membenahi baju milik Jenderal Soedirman. Foto-foto keluarga, foto istri dan masa kecil putra putri Jenderal Soedirman terpajang di sebelah ruang tidur.
Secara keseluruhan, Museum Sasmitaloka ini dikelola dengan sangat baik. Nampak dari penataan dan terawatnya benda-benda bersejarah, perabotan pribadi juga koleksi peralatan makan seperti keramik-keramik kuno. Bahkan tandu yang digunakan untuk mengusung Jenderal Soedirman pada tahun 1948 – 1949 masih tersimpan. Kebersihan tiap-tiap ruangannyapun tetap terjaga. Ada juga fasilitas pendukung seperti toilet. Selain benda-benda yang menjadi saksi sejarah perjuangan Jenderal Soedirman, berbagai diorama heroik pertempuran merebut kemerdekaan juga melengkapi koleksi Museum Sasmitaloka. Alangkah lebih baiknya jika pengunjung juga bisa mendengarkan narasi pertempuran dari diorama-diorama tersebut sehingga suasana peristiwa pertempuran dan kobaran semangat juang saat itu lebih dapat dirasakan.
Jam buka museum:
Senin – Jumat            : 08.00 – 14.00 WIB
Sabtu – Minggu         : melayani rombongan dengan pemberitahuan terlebih dulu
Harga tiket masuk     : gratis

Jumat, 12 November 2010

Jalan-jalan dan Belajar Membatik di Museum Batik

Museum batik Jogja, merupakan museum batik pertama yang berdiri di Jogja bahkan mungkin di Indonesia. Adalah Hadi Nugroho pemilik museum sekaligus penggagas berdirinya museum ini. Museum swasta ini terletak di Jln Dr. Sutomo, kota Jogja, seluruh bangunan dan isinya dikelola oleh pasangan suami istri Dewi Hadi Nugroho. Museum ini diresmikan pada tanggal 12 Mei 1977, disaksikan oleh Kanwil P&K Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Museum Batik ini berdiri di atas area seluas 400 m2 dan sekaligus dijadikan tempat tinggal pemiliknya. Museum batik ini juga pernah mendapatkan anugerah penghargaan MURI pada tahun 2000 yang lalu, atas ‘Sulaman Terbesar’, batik berukuran 90 x 400 cm2. Kemudian pada tahun 2001 museum batik ini mendapatkan penghargaan MURI lagi sebagai pemrakarsa berdirinya Museum Sulaman pertama di Indonesia.

Saat ini, sudah lebih dari 1.200 koleksi batik yang terdiri dari 500 lembar kain batik tulis, 560 batik cap, 124 canting (alat pembatik), 35 wajan serta bahan pewarna termasuk malam. koleksi di museum ini terdiri dari berbagai gaya batik Yogyakarta, Solo, Pekalongan dan gaya tradisional dalam bentuk kain panjang, sarung, dan sebagainya.

Beberapa koleksinya yang terkenal antara lain: Kain Panjang Soga Jawa (1950-1960), Kain Panjang Soga Ergan Lama (tahun tidak tercatat), Sarung Isen-isen Antik (1880-1890), Sarung Isen-isen Antik (kelengan) (1880-1890) buatan Nyonya Belanda EV. Zeuylen dari Pekalongan, dan Sarung Panjang Soga Jawa (1920-1930) buatan Nyonya Lie Djing Kiem dari Yogyakarta. Semua koleksi yang ada dalam museum ini diperoleh dari keluarga pendiri Museum Batik Yogyakarta. Koleksi tertuanya adalah batik buatan tahun 1840.

Namun, demikian animo masyarakat untuk datang dan belajar di museum batik ini masih kurang. Hal ini dirasakan oleh pengelola museum, meski setiap hari buka dari pukul 09.00 sampai 12.00 WIB berlanjut 13.00 hingg 15.00 (kecuali Minggu dan hari besar), pengunjung masih kurang.

Untuk itu penting dalam menginformasikan museum ini agar generasi selanjutnya masih menikmati keindahan batik yang merupakan tradisi luhur dari kakek-buyut kita. Selain itu, datang ke museum batik juga akan menambah pengetahuan kita tentang dunia perbatikan. Ayo ramai-ramai ajak saudara dan sahabat menyinggahi dan belajar batik di museum ini.


Kamis, 11 November 2010

Cari Keramik yang Nyeni ke Kasongan

gambar 1

Satu lagi desa wisata di Jogja yang harus dan wajib kita kunjungi apabila pergi ke Jogja. Desa tersebut adalah Kasongan. Kasongan merupakan desa yang terletak di daerah rendah bertanah gamping di Pedukuhan Kajen, Bangunjiwo, Bantul, Jogjakarta. Sekitar 8 km kearah selatan daya dari pusat kota Jogja. Atau sekitar 15 – 20 menit dengan berkendara dari pusat kota.

Keunikan desa ini adalah, desa ini merupaka sentra industry kerajinan gerabah  yang terbuat dari tanah liat (lempung). Hampir semua penduduknya mampu membuat perkakas, perabot dan souvenir dari tanah liat. Kawasan ini merupakan wilayah pemukiman para pembuat barang-barang kerajinan berupa perabotan dapur dan juga beraneka macam barang-barang sejenisnya yang sebagian besar menggunakan tanah liat sebagai bahan baku.

Hasil kerajinan dari gerabah yang diproduksi oleh Kasongan pada umumnya berupa guci dengan motif (burung merak, naga, bunga mawar dan banyak lainnya), pot berbagai ukuran dari kecil hingga besar), souvenir, pigura, hiasan dinding, perabotan seperti meja, kursi, dan lain-lain. Namun kemudian produknya berkembang bervariasi meliputi bunga  tiruan dari daun pisang, perabotan dari bambu, topeng-topengan dan masih banyak yang lainnya. Hasil kerajinan tersebut berkualitas bagus dan telah diekspor ke mancanegara seperti eropa dan Amerika. Biasanya desa ini sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Sejarah Unik Desa Kasongan
gambar 2
Kasongan pada mulanya adalah tanah pesawahan milik penduduk desa di selatan Jogjakarta. Pada masa kolonial di Indonesia, di daerah pesawahan milik salah satu warga tersebut ditemukan seekor kuda yang mati. Kuda tersebut diperkirakan milik Reserse Belanda. Karena saat itu Masa Penjajahan Belanda, maka warga yang memiliki tanah tersebut takut dan segera melepaskan hak tanahnya yang kemudian tidak ada yang mengakuinya lagi.

Ketakutan serupa juga terjadi pada penduduk lain yang memiliki sawah di sekitarnya yang akhirnya juga melepaskan hak tanahnya. Karena banyaknya tanah yang bebas, maka penduduk desa lain segera mengakui tanah tersebut. Penduduk yang tidak memiliki tanah tersebut kemudian beralih profesi menjadi seorang pengrajin keramik yang mulanya hanya mengempal-ngempal tanah yang tidak pecah bila disatukan. Sebenarnya tanah tersebut hanya digunakan untuk mainan anak-anak dan perabot dapur saja. Namun, karena ketekunan dan tradisi yang turun temurun, Kasongan akhirnya menjadi Desa Wisata yang cukup terkenal.

Sejak tahun 1971 - 1972, Desa Wisata Kasongan mengalami kemajuan cukup pesat.  Sapto Hudoyo (seorang seniman besar Yogyakarta) membantu mengembangkan Desa Wisata Kasongan dengan membina masyarakatnya yang sebagian besar pengrajin untuk memberikan berbagai sentuhan seni dan komersil bagi desain kerajinan gerabah sehingga gerabah yang dihasilkan tidak menimbulkan kesan yang membosankan dan monoton, namun dapat memberikan nilai seni dan nilai ekonomi yang tinggi. Keramik Kasongan dikomersilkan dalam skala besar oleh Sahid Keramik sekitar tahun 1980-an.


Berwisata ke Desa, Bisa Kok…

Di Jogja masih banyak desa-desa dengan pemandangan dan atraksi budaya daerah yang masih terjaga. Desa-desa ini merupakan asset yang harus dilestarikan sebagai laboratorium dan museum agar bisa dipelajari sekaligus di kembangkan agar tidak punah. Salah satu desa yang bisa kita kunjungi, dan memiliki pesona alami adalah desa agro wisata Turi.

Desa Turi merupakan desa yang masih alami dan terkenal dengan perkebunan salak Pondoh yang merupakan salak asli dari Jogja. Desa Turi terletak di kaki gunung Merapi, yang masih aktif. Abu vulkanik hasil letusan Merapi membuat tanaman seperti salak tumbuh di desa ini.

Produk unggulan sekaligus maskot desa Turi, yaitu salak Pondoh. Salak Pondoh dari X Desa agrowisata Turi ini sudah terdistribusikan hampir ke seluruh wilayah di Indonesia, bahkan sampai di eksport ke Malaysia dan Jepang. Salak ini merupakan tanaman yang unik, dengan bentuk pohon seperti bagian atas pohon kelapa sawit dengan sentuhan sedikit corak pakis, menjadi keunikan tersendiri bila disusun berjajar.
Salak pondoh terkenal dengan buahnya yang kecil dengan daging buah yang kenyal serta manis dan tidak lengket dengan biji salaknya. Rasanya yang manis ini, yang membuat salak pondoh di cari para wisatawan yang ingin membawanya sebagai oleh-oleh untuk keluarga.
Untuk mencapai kawasan pariwisata ini cukup mudah, kita bisa Anda bisa melewati jalan magelang atau melewati jalan monjali trus kemudian jalan palagan tentara pelajar untuk sampai di daerah Desa agro wisata Turi buah, desa turi ini.
Suasana alam yang dingin dan indah akan menghampar di depan mata kita. Banyak pekarangan rumah warga yang ditanami pohon salak pondoh. Dan hampir orang-orang di sana bermata pencaharian sebagai petani salak, serta berternak sapi perah. Desa agro wisata Turi berdiri di lahan seluas 27 hektare. Terdapat juga fasilitas pendukung, seperti tempat bermain anak-anak, pemancingan dan kolam renang. Desa agro wisata Turi ini terletak di Kampung Gadung, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman.
Wisata ke desa Agro Turi merupakan alternatif pilihan untuk jalan-jalan di Jogja. Selain udaranya yang masih sejuk, orang-orangnya juga ramah tamah. Disini kita juga bisa belajar, karena di desa wisata Agro di Turi terdapat 17 jenis tanaman salak bisa dijumpai di kebun seluas dua hektar tersebut. Mulai dari salak pondoh super, salak pondoh kuning, salak pondoh hitam, salak condet, salak manggala, salak gading, salak bali, salak semeru hingga salak tanonjaya.

Menikmati Malam di Monumen Serangan Umum

Monumen serangan umum sebelas Maret, merupakan prasati tentang serangan penting yang dilancarkan oleh pejuang untuk melawan penjajah, sekaligus bukti kepada dunia internasional bahwa TNI - berarti juga Republik Indonesia - masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan.

Monumen ini berada satu kompleks dengan Benteng Vredeburg. Sri Sultan Hamengkubuwono IX, menganggap saat itu Indonesia harus membuktikan kepada dunia luar bahwa walaupun para pemimpin negara Indonesia saat itu ditawan oleh Belanda, bukan berarti pemerintahan Indonesia telah lumpuh. Tapi sebaliknya pemerintah Indonesia masih ada dan TNI masih kuat sehingga dapat mendukung perjuangan RI di sidang Dewan Keamanan PBB yang dilaksanakan pada bulan Maret 1949. Dengan demikian ada beberapa hal yang ingin dicapai dengan adanya serangan ini yaitu selain tujuan militer, juga ada tujuan politis dan tujuan psikologis.

Selain Letkol Soeharto yang menyerang dari sisi Barat sampai batas Maliobor, serangan itu juga dilakukan oleh Ventje Sumual yang juga menyerang dari sekotr barat, Mayor Sardjono menyerang dari sisi timur, Mayor Kusno dari sisi utara, dan dari dalam kota sendiri serangan dipimpin oleh Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki.

Serangan itu dilakukan TNI tersebut didahului dengan menyerang pos-pos yang dibangun Belanda yang tersebar sepanjang jalur utama yang menghubungkan kota-kota yang telah dikuasai Belanda sebagai akibat serangan dan sabotase TNI. Untuk menyerang pos-pos Belanda tersebut TNI melakukan strategi gerilya yang terbukti mampu membuat tentara Belanda kesulitan melawan TNI. Puncak serangan itu sendiri dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 pada pukul 06.00. Kota Yogyakarta saat itu berhasil diduduki oleh TNI selama 6 jam sampai dengan pukul 12.00, sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan berhasilnya serangan ini (Serangan Umum 1 Maret) maka moril TNI semakin meningkat dan mampu mematahkan propaganda yang dilakukan Belanda yang menyatakan bahwa RI dan TNI telah lumpuh.

Saat malam menjelang, kawasan Serangan Umum ini biasanya akan ramai oleh anak-anak muda yang nongkrong dan sekedar menikmati suasana malam hari di Jogja. Kadang, di tempat ini sering juga ada acara pagelaran music, wayang atau dance yang cukup menghibur. 

Beringharjo, Dunia Kecil Orang Jogja

gambar 1

Orang kota, pasti tak bisa lepas dengan swalayan, mall, dan supermarket yang menyediakan aneka kebutuhan hidup dengan harga murah dan tempat yang bersih dan ber-AC. Kalau orang Jogja tak bisa lepas dengan keberadaan pasar Tradisional yang masih berdiri dan eksis sampai sekarang. Bukan berarti orang jogja tak modern, dan anti pasar modern, melainkan ada suasana yang tidak bisa didapatkan saat belanja di pasar tradisional.

Salah satu pasar tradisional yang masih eksis sampai sekarang, adalah pasar Bringharjo. Pasar ini terletak di jalan Malioboro, tepatnya di samping utara benteng Vredeburg. Pasar Beringharjo berasal dari kata Bering (pohon beringin) dan Harjo (kesejahteraan). Mungkin sebelum berdiri pasar Beringharjo, terdapat hutan pohon beringin yang mampu mendatangkan kesejahteraan bagi setiap orang.

Pasar tradisional ini merupakan salah satu tujuan wisata, karena pasar ini menjual berbagai kerajinan warga Jogja, aneka baju batik, aneka jajanan tradisional dan lain sebagainya. Untuk harga, di pasar Beringharjo bisa lebih murah (tergantung bagaimana kelihaian kita menawar saja.

Gambar 2
Menawar di pasar Beringharjo hukumnya adalah wajib. Inilah seni dan pelajaran yang bisa kita dapat ketika belanja di pasar tradisional, karena dengan saling tawar-menawar akhirnya kita bisa mengenal para penjual di pasar Beringharjo. Jangan ragu juga untuk selalu membandingkan harga toko satu dengan lain agar kita bisa mendapatkan harga terrendah.

Di pasar Beringharjo, kita juga bisa berburu jajanan tradisional yang sudah hamper punah. Selain itu, untuk kebugaran dan kesehatan juga ada kios-kios yang menjual jamu tradisional yang siap seduh, atau bisa juga diminum di sana. Pasar ini juga tempat yang tepat untuk berburu barang-barang antik. Sentra barang antic bisa ditemukan di lantai 3 bagian timur, serta di samping sebelah utara pasar.

Jika haus, meminum es cendol khas Jogja adalah adalah pilihan yang tepat. Es cendol Jogja memiliki citarasa yang lebih kaya dari es cendol Banjarnegara dan Bandung. Isinya tidak hanya cendol, tetapi juga cam cau (semacam agar-agar yang terbuat dari daun cam cau) dan cendol putih yang terbuat dari tepung beras. Minuman lain yang tersedia adalah es kelapa muda dengan sirup gula jawa dan jamu seperti kunyit asam dan beras kencur. Harga minuman pun tak mahal, hanya sekitar Rp. 1000 sampai Rp. 2000.

Transport untuk akses ke pasar Beringharjo juga cukup mudah kok?! Kita bisa naik trans dari terminal atau bus kota yang jurusan Malioboro. Kalau dari stasiun tugu kita tinggal berjalan kearah selatan melalui Jalan Malioboro. Selamat Jalan-jalan… 



Selasa, 09 November 2010

Senang-senang di Kebun Binatang Gembira Loka

gambar 1
Bermain ke kebun binatang adalah sebuah kegembiraan. Banyak ekspresi unik para hewan-hewan yang bisa membuat siapapun akan kembali refresh. Mengunjungi kebun binatang juga menjadi melankolia indah atas kenangan-kenangan diwaktu kita kecil. Karena seringkali kita diajak orang tua (waktu kecil) bertamasya ke kebun binatang.

Salah satu kebun binatang kebanggan warga Jogja adalah kebun binatang Gembira Loka, yang terletak kurang lebih 5 km arah timur dari kraton Yogyakarta, menempati area seluas 20,4 ha. Lokasinya yang berada di jantung kota Jogja, mampu menyedot pengunjung 1,5 juta orang per tahun.

Kebun binatang Gembira Loka memiliki koleksi lebih dari 500 jenis tanaman dan lebih dari 400 jenis binatang. Kebun binatang Gembira Loka terletak di dua wilayah, yaitu kecamatan Kotagede dan kecamatan Umbulharjo. Keduanya dipisahkan oleh sungai Gajah Wong, dimana sebelah timur merupakan kebun raya, dan sebelah barat merupakan kebun binatang.

Proses berdirinya Gembira Loka memakan waktu cukup lama, sampai 20 tahun. Sejak tahun 1933 atas berkenan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII direncanakan adanya tempat hiburan yang dinamakan Kebun Rojo yang selanjutnya diteruskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pelaksanaan rencana Kebon Rojo itu, oleh Sri Sultan dimintakan bantuan seorang ahli bangsa Belanda bernama Ir. Karsten. Menurut pendapatnya tempat yang paling baik adalah disebelah Barat kali Winongo, oleh karena itu lalu diadakan pembebasan tanah.

gambar 2
Rencana mendirikan Kebon Rojo tersebut belum sampai terwujud, Perang Dunia II meletus dan Indonesia sebagai jajahan Belanda terseret akibat perang tersebut dan selanjutnya diduduki tentara Jepang. Selama pendudukan Jepang rencana mendirikan Kebon Rojo itu terlupakan sama sekali.

Dalam tahun 1949 sesudah chlas II, Pemerintah pusat merencanakan dan menyiapkan pemindahan Ibukota dari Yogyakarta ke Jakarta. Waktu itu timbulah gagasan dari para Sekretaris Jendral Kementrian yang akan pindah ke Jakarta berkehendak memberikan suatu kenang-kenangan kepada masyarakat Yogyakarta suatu tempat hiburan. Pelopordari usaha itu adalah Sdr.Januismadi dan Sdr. Hadi, SH. Walaupun usaha itu mendapat sambutan baik dari masyarakat Yogyakarta, tetapi hasilnya belum dapat dirasakan oleh masyarakat Yogyakarta.

Baru pada tahun 1953 rencana untuk mendirikan Kebon Rojo itu dapat diwujudkan, yaitu dengan berdirinya Yayasan GEMBIRA LOKA Yogyakarta, dengan Akte Notaris RM. Wiranto No. I I tanggal 10 September 1953, dan diketuai oleh Sri Paduka KGPAA Paku Alam VIII. Yayasan inilah yang merintis berdirinya Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka.

Jalan-jalan ke kebun binatang Gembira Loka, bisa jadi merupakan alternatif mencari kesegaran dan refreshing di tengah kesibukan kita sehari-hari. Untuk menuju ke kebun bnatang Gembiraloka cukup mudah, kita bisa naik Trans Jogja, Bus kota atau bisa juga naek kendaraan pribadi. Dari Keraton Yogyakarta bisa langsung lurus kea rah Timur.


gambar 1: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEio3Jm6iZb81fFKvI8UXLBEMlkkuaQceWVY1rOZoF5o62mt_UZ2U5P8nrlM8MHFst5GCelrMf6s3kJW1a6Q4bZgMnv6hsqUcUwro5JB69EcWAZOn4YVZoYl4HEYEmvoO1kyX79BHhyphenhyphenhq_9I/s1600/Kebun+Binatang+Gembira+Loka.jpg
gambar 2: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLwY0ZgUoqngI0gjYEYldaO6sNvq9YwX_LKegEVbaEuZI3OullTn2IDIt6cjR108GLXsE2Iyy_SJK20HHphlRuSX3l41YmwQacITkx4Z6KnjY4EpM3rmpKXggozRNZ1pnBx9KiUh1vuKXw/s400/Foto016.jpg

Wisata Spiritual di Kotagede

gambar 1
Melakukan perjalanan ke Kotagede, Jogja, merupakan perjalanan spiritual dan ziarah dalam memugar kebesaran Mataram yang merupakan embrio kota Jogja modern. Terletak kurang lebih lima kilometer di sebelah selatan Tenggara Jogja, Kotagede menjadi kota budaya kecil namun, memiliki makna sejarah peradaban besar yang melebihi kota Jogja sendiri.

Salah satu spot wisata yang mampu mengaduk-aduk nilai spiritual kita adalah menziarahi makam Panembahan Senopati, yang merupakan raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Mataram. Yang juga merupakan leluhur atau nenek moyang dari Sultan-sultan yang memerintah Kasultanan Yogyakarta hingga sekarang. Dalam pemakaman yang dinamai Ngabei Loring Pasar Sutawijaya, juga ikut dimakankan Ayah Bunda beliau Kid an Nyi Ageng Pemanahan, Sultan Hadiwijaya (ayah angkat Panembahan Senopati) dari Kerajaan Pajang serta kerabat istana lain.

Selain itu ada juga Ki Ageng Mangir, yang merupakan menantu sekaligus musuh beliau, sehingga setengah dari makamnya terletak di luar. Kurang lebih 100 meter di sebelah selatan kompleks makam, masih dapat disaksikan Watu Gilang—yang konon lantai singgasana Panembahan Senopati sendiri yang digunakan untuk mengakhiri hidup Ki Ageng Mangir.

Menemukan area makan ini cukup muda, dari pasar tradisional Kotagede, kita bisa berjalan kaki ke selatan tak sampai 500 meter di barat jalan akan terlihat sebuah beringin yang sangat besar dengan sebuah pendopo sederhana di bawahnya. Itulah area makam Panembahan Senopati.

Kita bisa langsung masuk ke dalam area makam yang di dalamnya terdapat Masjid Kotagede yang sejarahnya sama tuanya dengan kota Jogja. Dilihat dari arsiteknya, masjid ini masih mempertahankan gaya Hindu dilihat dari ukiran-ukirannya. Di sebelah selatan masjid, terdapat sebuah gapura kecil seperti pintu kerajaan—lengkap dengan pintu kayunya yang terukir dengan indah.

gambar 2
Setelah masuk, kita akan menemukan beberapa pendopo tempat kita singgah dan minta ijin kepada juru kunci atau abdi dalem untuk sowan ke makam Raja. Disini kita akan dipakaikan pakaian adat Jawa jika ingin mengunjungi makam sang Raja dan masuk lebih jauh ke dalam kompleks makam

Kompleks makam terbagi dalam 3 bagian, yaitu Masjid, makam dan sendang. Masjid terletak di bagian Timur, makam di bagian Barat dan sendang di bagian Barat Daya. Ketiga bagian tersebut dibatasi oleh pagar tembok dan dihubungkan dengan gapura. Pada halaman pertama ini terdapat prasasti yang berbunyi: Kanjeng Panembahan Senopati, Bertahta Kerajaan Mataram, Tahun Djinawal : 1509 Tahun Masehi : 1579, Kubur Kotagede Selain itu juga terdapat bangunan yang disebut dengan Bangsal Duda dengan. Halaman Kedua, di halaman ini terdapat 4 buah bangunan, yaitu bangunan di sudut Tenggara, Timur laut, Barat laut dan Barat Daya. Halaman Ketiga, terdapat bangunan utama yang terdiri dari 3 buah bangunan yang disebut Bangsal Prabayaksa, Bangsal Witana dan Bangsal Tajug.


Jangan lupa untuk selalu bawa uang kecil—seribuan—untuk berbagi dengan para abdi dalem ketika di area makam, karena biasanya kita akan menemui ‘kota amal’ di dalam area. 


gambar 1: http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2009/09/Makam-Kotagede.jpg
gambar 2: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjxZ7eawLO0UfbcMmfk5KjKJi_g12HdLsz9a-2bd9mGWDJdU_D3h0eFz5PEmVLx0yeJ8d6xeVfsFDzMRDwfXrCmZuBLC46uq9olhstrIvWbYcS5riFrxU7dd2RLtSz-8bm9tmhStiKZHI/s320/DSCN0147.JPG

Wedang 'Sampah' Asli Imogiri

Imogiri, kota kecil yang masih masuk dalam Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan terletak sekitar 20 kilometer di sisi selatan kota Jogja. Imogiri merupakan daerah yang berbukit-bukit, dan menyimpan kearifan serta misteri yang luar biasa besar. Pohon-pohon tumbuh, tua, berlumut dan tak terusik. Namun, pohon-pohon yang tumbuh di daerah Imogiri mendatangkan berkah bagi masyarakat Imogiri.

Daun, semak, akar, ranting dari tumbuhan di Imogiri oleh masyarakat setempat dapat diolah menjadi bahan minuman yang menyehatkan, seperti wedang uwuh. Wedang uwuh terbuat dari rempah-rempah yang dinilai berkhasiat mengobati berbagai penyakit dan merupakan minuman tradisional warisan nenek moyang. Uwuh adalah sebutan sampah dalam bahasa Jawa, namun wedang uwuh bukan terbuat dari sampah, melainkan dari berbagai rempah-rempah yang mempunyai khasiat mengobati berbagai penyakit seperti masuk angin dan kembung serta dapat menyegarkan tubuh.

Ia mengatakan wedang uwuh ini merupakan minuman tradisonal warisan nenek moyang yang telah lama dikonsumi oleh masyarakat. Keistimewaan wedang uwuh ini yakni bahan baku dan proses pembuatanya masih tradisional yakni terbuat dari bahan-bahan alam seperti jahe, gula batu, daun cengkeh, pala, kayu secang serta daun pala.

Cara penyajian wedang Uwuh ini dengan diracik terlebih dulu. Rempah-rempah yang menjadi bahan baku pembuatan wedang uwuh ini dimasukkan ke dalam gelas kemudian diseduh dengan air panas, jadi tidak direbus dulu.

Ketika sudah diseduh dengan air panas, Wedang Uwuh menghadirkan warna air yang cokelat kemerahan. Diperlukan tujuh unsur untuk disatukan dalam satu gelas. Untuk menambah rasa manis bisa ditambahkan dengan gula batu. Agar rasa manisnya awet, dalam mengaduk gula batu, cukup pelan-pelan saja.
Sedangkan waktu yang kira-kira paling tepat untuk meminum wedang uwuh ini adalah ketika cuaca berubah menjadi dingin. Atau bisa juga diminum malam hari, atau pagi hari.

Untuk menemukan warung-warung yang menjual wedang uwuh di Imogiri, cukup mudah kok.. Karena banyak warung di pinggir-pinggir jalan yang menjual minuman sehat ini. Jika ingin membawa pulang untuk oleh-oleh, kita juga bisa membeli yang sudah dipacking dan tinggal diseduh air panas. Takarannya juga sudah ditentukan dari sana.

Sabtu, 06 November 2010

Indahnya Jogja dilihat dari Bukit Bintang

gambar 1

JJS atau Jalan-jalan Sore di Jogja bisa ke beberapa tempat yang romantis abis. Bisa jalan-jalan ke Malioboro, nongkrong sambil menikmati senja di Angkringan kali code, atau maen becak-becakkan di alun-alun kidul atau juga menikmati keindahan Kaliurang di lereng Gunung Merapi (tapi jangan sekarang ya kalau kesana, soalnya Merapinya lagi batuk-batuk terus). Ada satu tempat lagi yang meski dicoba untuk dikunjungi atau sekedar menjadi referensi JJS kalau di Jogja, yaitu nongkrong di bukit Pathuk Piyungan atau biasa dikenal dengan bukit Bintang.

Meski tempatnya yang agak jauh dari kota—karena berada di perbatasan antara Kabupaten Jogjakarta dan Gunung Kidul—namun menyinggahi tempat itu kamu akan mendapatkan kenangan tentang Jogja yang tak akan kamu lupakan. Bukit bintang terletak sekitar 20 menit ke arah timur dari kota Jogja dengan naik motor. Jika ingin kesana dengan akses angkutan umum bisa naik bis jurusan Jogja-Wonosari dari terminal Giwangan. Lalu turun di Pathuk atau bukit bintang. Tapi sayangnya kalau sudah malam hari, akses kendaraan umum ke sana menjadi terbatas.

Tapi kalau sudah sampai sana, dijamin tak akan rugi. Karena kita bisa melihat keindahan Jogja dari ketinggian, kalau pas cerah kita bisa melihat jalan-jalan kota Jogja yang memanjang dan melingkar-lingkar. Atau juga melihat gunung  Merapi  yang indah dengan latar belakang langit biru di utara. Pemandangan waktu senja atau sore juga tak kalah eksotik. Kita bisa melihat matahari tenggelam dimana kota Jogja seakan tenggelam dalam lautan warna jingga.

Disana juga banyak berdiri restauran, warung makan atau tempat istrirahat untuk makan, minum sambil menikmati kota Jogja dari sudut pandang yang beda. Jika mau kesana jangan lupa bawa jaket, untuk melindungi tubuh karena hembusan udaranya yang lumayan kencang, plus udaranya yang dingin. Mau sate kelinci atau sekedar minum kopi, di bukit Bintang juga ada yang jual lo… Cocok dan romantis kan kalau misalnya kita ngajak pacar, jalan-jalan sore ke bukit Bintang, melihat keindahan kota Jogja sambil berbincang.

gambar 2
Saat malam menjelang, jangan buru-buru pulang dulu. Kamu bisa merasakan sensasi malam hari di bukit Bintang ini. Menyaksikan lampu-lampu di kota Jogja yang satu-persatu dinyalakan, juga lampu jalan, lampu-lampu kendaraan yang melintas di jalan-jalan Jogja menimbulkan efek yang indah. Tapi, jangan lupakan bintang-bintang yang muncul di langit atas kepala kita ya? Kalau malam hari (dengan catatan tidak mendung dan cerah) kamu bakal bisa menyaksikan ribuan bintang yang bermunculan di langit. Bulan yang bersinar terang.  Indah banget pokoknya …

Kalau malam biasanya udara mulai dingin. Cocoknya kalau sudah demikian adalah menikmati secangkir jahe panas, atau secangkir wedang uwuh khas Imogiri Jogja, ditambah camilan jagung bakar atau roti bakar. Bisa dibayangkan, romantisnya kalau sudah begitu. Makanya tak salah bukan kalau aku mengatakan setiap sudut jalan Jogja sangat romantis. Romantic disini juga bisa dimaknai banyak hal lo… Misalnya romantisisme kenangan masa lalu Jogja dan masa sekarang, yang membuat siapun tak akan melupakan kota ini.



Parangkusumo, Antara Mistik dan Cinta

Gambar 1

Setelah menikmati pantai Parangtritis, tak ada salahnya kita mampir ke pantai Parangkusumo yang letaknya persis di sebelah barat Parangtritis. Untuk kesana kita bisa berjalan kaki menyusuri bibir pantai sambil olahraga. Atau juga bisa naik andong pantai, dan kendaraan bermesin.

Pasir dan pemandangan di Parangkusumo memang tak jauh berbeda dengan Parangtritis. Namun, rasa beda akan kamu rasakan jika malam menjelang. Disini, wisata pantainya bergeliat jika menjelang malam. Banyak restaurant dan warung hiburan yang menyajikan musik dangdut serta campur sari terdapat di sepanjang bibir pantai. Parangkusumo merupakan pantai cinta, yang merefleksikan cinta lelaki dan perempuan dalam bahasa yang paling purba.

Kenapa bisa pantai cinta? Karena di Parangkusumo ini kita bisa menemukan batu besar yang berada di pemukiman warga Parangkusumo. Batu itu dikenal sebagai Cepuri, dimana Kanjeng Ratu Kidul pernah bertemu dan memadu kasih dengan Panembahan Senopati (raja Mataram) di atas batu tersebut. Karena itulah, pantai ini cocok untuk mengikat janji dan merefleksikan cinta kasih kita.

Meski demikian, Parangkusumo merupakan pantai yang sakral dan mistik. Sebab itulah pantai ini merupakan tujuan utama para pengikut aliran kejawen untuk lelaku. Bahkan banyak warga disini yang kerap mendengarkan dan mengalami sendiri hal-hal yang sifatnya diluar manusia.

Gambar 2:
Batu Cepuri
Pada bulan-bulan tertentu (yang dianggap sacral oleh masyarakat Jawa), di pantai ini sering dilakukan upacara labuhan yang dipimpin juru kunci pantai Parangkusumo, sebagai persembahan kepada Nyai Roro Kidul. Kalau sedang main ke sini, jangan kaget jika tiba-tiba ada perempuan-perempuan seksi yang mengajak kita kencan. Perempuan-perempuan ini umumnya memanfaatkan kesakralan pantai Parangkusumo untuk mencari uang.

Beberapa orang masih percaya, salah satu ritual yang meski dilakukan di Parangkusumo adalah bersetubuh dengan lawan jenis di area Cepuri dan Parangkusumo. Perempuan-perempuan yang menyapa kamu tadi, bisa jadi mereka yang menawarkan jasa untuk di “keloni” sebagai ritual di Parangkusumo.

Unik dan menarik bukan jalan-jalan ke pantai Parangkusumo. Meski demikian, jika kita berkunjung ke pantai Parangkusumo, alangkah baik jika kita tetap menghormati baik buruk budaya yang sudah menjadi kepercayaan masyarakat disana, agar tidak terjadi hal-hal yang diluar keingingan kita. 

Parangtritis yang "Manis"

"Parangtritis, is one of the most beautiful beaches in Jogja."

“rasane kepingin nangis yen kelingan Parangtritis,…” ingat gak lagu ini, he2x… lagu ciptaan mas Didi Kempot tentang Parangtritis ini memang bikin semua orang yang pernah ke pantai Parangtritis jadi kelingan (teringat) terus. 

Jogja merupakan kota bagian dari makrokosmos pertautan ghaib antara gunung Merapi yang berada di Utara kota Jogja, Keraton sebagai titik pusat kota dan pantai Parangtritis di bawah kuasa laut pantai Selatan, Nyi Roro Kidul. Merapi, Keraton dan Parangtritis merupakan tiga tempat penting Jogja yang sangat sacral bagi masyarakatnya.
Meski demikian, bukan berarti kita tidak boleh maen ke tiga tempat itu. Kita malah dianjurkan untuk menyinggahi tempat-tempat sacral itu, untuk lebih menggenal Jogja secara utuh. Selain itu, menyinggahi tempat-tempat penting tersebut juga membuat kita lebih bijaksana, karena banyak pesan moral yang akan kita dapat.

Mari ke Parangtritis. Jangan lupa siapkan sandal jepit untuk main dan berlarian ke pantai, juga baju dan celana ganti jika ingin basah-basahan di pantai, tapi jangan sampai tengah-tengah ya… Menurut mitosnya kalau kita mau main ke pantai Parangtritis, kita dilarang untuk memakai pakaian warna hijau Gadung atau hijau muda. Ya, konon Kanjeng Ratu Kidul selalu mengajak siapapun yang memakai warna kesukaan sang Ratu untuk melihat istana gaibnya yang berada di dasar laut kidul.

Akses untuk kesana juga mudah. Jika naik sepeda motor, kita tinggal lurus kea rah selatan dari Alun-alun Lord an Alun-alun Kidul. Lurus saja, sampai ada perempatan jalan Parangtritis, lurus terus, Institut Kesenian Yogyakarta masih lurus ke selatan. Setelah menemukan jembatan kretek yang besar, itu tandanya kamu sudah hamper sampai.

Untuk kamu yang ingin menggunakan kendaraan umum, aksesnya juga cukup mudah. Dari terminal induk Giwangan, kamu naik bisa kecil jurusan Jogja-Parangtritis lalu turun di terminal Parangtritis. Bagi yang ingin menginap, juga disediakan losmen dan hotel dengan harga yang relative murah.

Pantai selatan Jogja, tidak hanya Parangtritis saja, masih banyak pantai-pantai indah yang bisa disinggahi, seperti Pantai Parangkusumo, Depok, Kuwaru, Samas dan masih banyak lagi. Pantai Parangkusumo-lah yang dekat dengan Parangtritis. Kita bisa menyusui bibir pantai dari Parangtritis sampai Parangkusumo dengan berjalan kaki, naik andong, atau menyewa mini APV.

Jangan lupa selalu mematuhi peraturan dari tim SAR, seperti jangan mandi di titik-titik yang dilarang, serta jangan melanggar mitos yang dipercayai masyakarat Jogja, agar kita selamat saat bersenang-senang di Parangtritis. Selamat jalan-jalan.

Kamis, 04 November 2010

Shoping Center, Surga Para Pecinta Buku

Letaknya yang bersebelahan dengan Taman Budaya Yogyakarta, serta tak jauh dari Jalan Malioboro serta pasar Bringharjo, Shoping center sangat mudah ditemukan. Bagi kamu yang penghobi berat baca buku, dan kebetulan tinggal di area Jogja, tentunya sudah tahu apa itu Shoping Center. Yup, shoping merupakan pasar yang khusus menjual segala macam buku, dari buku baru sampai buku jadul. Tentunya dengan harga diskon yang murah meriah.

jika kamu sedang menempuh kuliah atau pendidikan di Jogja, dan kebetulan disuruh oleh dosen untuk mencari buku referensi, shoping center bisa menjadi alternatifnya. Sama seperti Grammedia, Toko Buku Toga Mas, dan Social Agency, Shoping menjual buku berbagai judul yang lengkap. Bedanya, di Shoping banyak sekali kios penjual, yang mungkin berbeda karakter satu sama lainnya. Misalnya ada kios yang menual buku-buku sejarah second yang tidak keluar lagi, ada juga kios yang menjual khusus buku-buku pelajaran dan lain-lain.
Akses umum untuk menuju shoping juga mudah. Dari Jalan Malioboron atau Alun-alun Utara kamu bisa naek becak, atau andong sambil menikmati suasana kota Jogja. Naek becak juga tidak terlalu mahal kok. Jalan kaki dari Malioboro atau Alun-alun Utara dan Kraton Yogyakarta juga bisa menjadi alternatif, selain sehat kita juga bisa melihat batu mulia yang dijual di sekita perempatan Gedung Pos Yogyakarta.

Jalan-jalan di Shoping Center tentunya akan membuat kita banyak menyerap pengetahuan. Tenang saja, kalau jalan-jalan di Shopping, kita tak hanya diijinkan untuk melihat, namun juga diperbolehkan untuk membaca buku-bukunya (tapi gak boleh dibawa pulang). Meski terkadang ada beberapa buku yang masih di srink (dibungkus plastik). Enaknya lagi, disini kita juga bisa membandingkan harga dan isi buku dari satu toko ke toko lain.

Jika ada yang cocok dengan kita, bisa langsung kita tanyakan harganya. Tapi jangan buru-buru bayar dulu, karena di Shoping kita juga bisa menawar harga buku. Bayangkan sudah dapat diskon, kita juga masih bisa nawar juga.

Habis jalan-jalan nyari buku, tentunya perut kita menjadi lapar. Atau kita buru-buru untuk membaca buku yang baru kita beli. Tenang, di lantai dua Shoping Center juga ada restaurant yang menyajikan berbagai menu makanan dan minuman. Tempatnya yang tenang, serta nyaman cocok untuk kita menikmati makanan sambil membaca buku yang sudah kita beli.


Menikmati Senja dan Secangkir Kopi di Kali Code

"every street corner in jogja very romantic."

Di Jogja, hampir semua sudut jalan adalah tempat yang romantis. Di bawah pohon, di emperan toko, di bawah temaram lampu Jogja, di Tugu yang kokoh berdiri sebagai simbol kota Jogja, namun dari semua itu mungkin di atas bantaran sungai Code saat senja mau turun adalah tempat yang mungkin bisa disinggahi bersama pacar maupun teman.

Saban sore hari di sepanjang sungai code yang berada di timur jalan Mangkubumi, tepatnya dari tugu Jogja ke timur lalu belok kearah selatan, menjadi tempat favorit untuk berkumpul bersama teman atau kencan sore bersama pacar. Sambil menikmati kopi, kita bisa melihat sungai Code dan masyarakatnya yang unik. Di sepanjang jalan juga banyak berdiri warung dan angkringan yang siap menyajikan aneka minuman hangat dan nasi angkring. Tak lupa jajanan dan gorengan hangat juga tersedia.

Kita bisa saling bercerita dengan sahabat tentang impian kita, tentang kenangan atau sekedar gosipin temen, disana tanpa takut keluar uang banyak (tidak sebanyak biaya yang dikeluarkan kalau nongkrong di kafe). Harga minuman dan makanan, juga standar warung angkring yang terkenal murah meriah. Namun, menu yang di jual kalau disini lebih variatif plus layanan bakar (kalau kita berminat ayam bakar, tempe bakar, dll asal tidak sandal bakar lo.. dijamin pasti tidak ada!? He2x..)

Waktu yang tepat untuk nongkrong disini biasanya sekitar jam 5-an sore. Karena kalau jam segitu kita akan disuguhi oleh keindahan langit senja melukis barat Jogja. Jika cuaca lagi bagus, kita juga bisa menyaksikan matahari tenggelam alias sunset dari situ, tentunya ditemani minuman kopi atau jahe hangat.

Kalau kesana sebisa mungkin membawa receh, karena biasanya kita juga akan dihibur oleh musisi jalanan. Tenang, para musikers ini sopan kok… Mereka akan tetap menghormati dan memberikan senyum termanis mereka walaupun kita tak member mereka receh. Meski demikian kualitas vokal dan skill permainan musik mereka juga tak kalah sama jebolan Indonesia Idol (he2x… ini penilaian pribadi).

Tunggu apalagi, jika sedang di Jogja dan ingin menghabiskan sore yang unik dan indah bersama sahabat dan pacar bisa langsung menuju lokasi. Jangan lupa juga untuk bawa receh ya, untuk berbagi dengan anak-anak jalanan disana… 

Icip-icip Bakpia di Jalan Pathuk

gambar 1

Sudah capek muter-muter Jogja, mampir ke tempat-tempat wisata, bahkan juga sudah mencicipi gudeg—makanan asli wong Jogja. Tapi kok ada yang kurang ya? Pulang dari jogja kok hanya dengan hampa, wah gak ‘mathuk’ ki! Jangan kuatir , kalau binggung cari oleh-oleh jajanan untuk orang tercinta di rumah, kamu bisa mampir di jalan Pathuk yang menyediakan berbagai macam jajanan khas Jogja. Tapi dari sekian banyak jenis jajanan hanya satu yang mungkin paling terkenal (dan kamu mungkin pernah mengenal dan memakannya) yaitu Bakpia Pathuk.

Bahkan, saking terkenalnya, nama bakpia juga pernah dijadikan lagu oleh Project Pop. Pasti ingat dong, kira-kira liriknya seperti ini “bakpia-bakpia pathuk, kue jogja kecil nan mencolok…” (lumpia vs bakpia by Project Pop).

Makanan atau nyamikan yang terbuat dari adonan tepung terigu dan minyak kelapa dan diisi dengan adonan kacang hijau, kadang juga diisi keju, memang memiliki citarasa yang khas. Ueeennaaakee mak nyus! He2x… tapi perlu juga diketahui nama embel-embel pathuk di belakang, itu merujuk pada nama sebuah jalan dimana banyak pabrik pembuatan bakpia, yaitu jalan Pathuk (sekarang sudah berubah menjadi Jl. KS. Tubun). Jalan Pathuk berada di kawasan Kecamatan Ngampilan, Yogyakarta.

Biasanya pada waktu musim liburan tiba, sepanjang jalan Pathuk dapat dipastikan padat dan sumpek oleh kendaraan para pembeli oleh wisatawan. Lokasi  jalan Pathuk ini juga bisa ditempuh dengan naik becak dari Malioboro, karena lokasinya yang dekat dengan Malioboro. Untuk naik becak ke jalan Pathuk juga cukup murah kok, yaitu Rp 5.000 – Rp 10.000.

Di kawasan Pathuk ini ada lebih 100 pedagang dan produsen bakpia. Ada yang sudah bermerk ada yang masih industri kecil–kecilan. Di antara yang sudah punya nama, selama ini dikenal ada bakpia Pathuk 25, 35, 38, 55, 67, 75, 99, dan entah nomor berapa lagi. Nomor-nomor itu umumnya merujuk angka atau nomor alamat rumah. Kalau missal lihat ada Bakpia Pathuk 75, berarti bakpia itu diproduksi di jalan Pathuk nomor 75. Untuk harga 1 dos bakpia di Jogja rata-rata  Rp 10.000, 1 dos berisi 20 butir.

gambar 2
Nama bakpia yang sekarang identik dengan Jogja, sebenarnya bukan nama makanan produk asli Jogja lo... Konon, makanan ini berasal dari Cina, yang nama aslinya Tou Luk Pia yang berarti pia atau kue kacang hijau. Entah lidah siapa yang pertama kali "kepeleset" menyebutnya menjadi bakpia. Pada tahun 1948, keluarga Goei Gee Oe (ini pasti pendatang dari Cina) mencoba–coba membuat bakpia sebagai industri rumahan. Lalu dijajakan eceran, dari rumah ke rumah, dalam wadah besek (wadah kotak berupa anyaman dari bambu), tanpa label.

Demikianlah hingga pesatnya perkembangan industri per–bakpia–an di Yogya, pada awal tahun 1990–an bakpia mengalami "booming" dan sampai sekarang pun nampaknya masih menjadi komoditi unggulan oleh–oleh makanan khas Yogya.

Makanya, ayo rame-rame singgah ke jalan Pathuk untuk icip-icip bakpia yang gurih, khas Jogja.

Rabu, 03 November 2010

Olahraga Sambil Belanja di Sunday Morning

Bila ingin menggabungkan antara olahraga, belanja, sekaligus cuci mata, kamu bisa datang ke Sunday Morning alias pasar kaget hari Minggu pagi di kawasan UGM, Jogja. Banyak barang-barang untuk kebutuhan kost dan kuliah dijual disini. Rata-rata yang berjualan di sini masih mahasiswa lo? Jadi, mereka mengisi minggu pagi untuk mencari uang tambahan, lumayan loh buat tambah-tambah beli jajan dan beli buku untuk kuliah.

Kalau kamu mahasiswa baru atau pendatang baru di kota Jogja, dan ingin ada acara di Minggu pagi yang cerah, tak ada salahnya datang ke Sunmor. Sambil olahraga, jogging misalnya, kita bisa melihat aneka barang kebutuhan sehari-hari yang dipajang dan dipamerin di sepanjang jalan. Untuk harga, ane kasih bisikan, harga mahasiswa yang murahnya bisa ngepol, terus masih bisa di nego pula.

Karena Sunday Morning atau lebih dikenal dengan Sunmor ini berada di jalan strategis yang menghubungkan dua ‘kebudayaan’ (weits bahasanya), maksud saya menghubungkan dua perguruan tinggi, yaitu Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta, maka yang datang biasanya adalah mahasiswa dan mahasiswi dua perguruan terbesar di Jogja itu. Kesempatan ini bisa menjadi kesempatan bagi para jomblowan dan jimblowati untuk mencari tambahatan hati di sini. Di sunmor kita juga bisa melihat beberapa mahasiswa yang sedang show nunjukkin bakat mereka, seperti berteater, berpuisi, main perkusi dll. Dijamin gak akan bosan disini, mata juga akan melek terus.

Karena banyaknya pengunjung, makajuga meski hati-hati dalam menjaga barang. Dompet harus selalu dipastikan di saku celana, HP juga, karena banyak orang yang tidak bertanggung jawab menggunakan kesempatan untuk ‘mencomot’ barang-barang berharga milik kita. Kalau untuk kendaraan sih relatif aman, karena sudah ada jasa parkir disana.

Di Sunmor, bisanya yang dijual adalah pernak pernik unik untuk keseharian kita. Seperti sandal japit yang unik untuk di kost, tas laptop dari batik, sarung hape, korden untuk jendela kamar. Kalau mau cari bumbu dapur disini, saya pastikan kamu gak akan pernah menemukannya. Tapi kalau cari bumbu dapur yang sudah diolah jadi makanan, itu baru ada, karena di sunmor juga banyak yang jualan makanan. Setelah muter-muter liat barang dan liat orang (eh olahraga), tentunya perut akan lapar. Kalau sudah begitu obatnya adalah makan bukan? Jangan khawatir, karena di Sunmor juga banyak yang jual makanan serta minuman dengan harga yang murah. Selamat jalan-jalan di Minggu pagi.

Populer

Pengikut